Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
banner 728x250
Berita

Peneliti MPSI Tekankan Pentingnya Gerakan Mahasiswa Berbasis Data di Era Digital

4
×

Peneliti MPSI Tekankan Pentingnya Gerakan Mahasiswa Berbasis Data di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Peneliti MPSI Tekankan Pentingnya Gerakan Mahasiswa Berbasis Data di Era Digital
Peneliti MPSI Tekankan Pentingnya Gerakan Mahasiswa Berbasis Data di Era Digital

Suarapemuda.id, Depok – Organisasi mahasiswa dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan lanskap demokrasi dan perkembangan teknologi informasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, gerakan mahasiswa dinilai perlu mengedepankan pendekatan berbasis data, riset, serta solusi konkret agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Fathan Putra Mardela, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta Raya yang diselenggarakan Koordinator Komisariat HMI Universitas Negeri Jakarta di Balai Pusat Pelatihan Bisnis dan Pariwisata Kemendikdasmen, Sawangan, Depok, Sabtu (4/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Fathan membawakan materi bertajuk Mahasiswa sebagai Pressure Group di Era Digital.

“Dinamika demokrasi digital telah membuka ruang partisipasi publik yang semakin luas. Namun, ruang tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena opini publik sangat mudah dipengaruhi oleh arus informasi yang cepat. Karena itu, organisasi mahasiswa dituntut memiliki kapasitas intelektual yang lebih baik dalam membaca persoalan bangsa,” ujar Fathan.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menyampaikan kritik atau mengandalkan gerakan parlemen jalanan semata.

“Gerakan yang berdampak adalah gerakan yang mampu menghadirkan data, analisis objektif, serta menawarkan solusi yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan kebijakan publik,” tegasnya.

Fathan menjelaskan, keberhasilan sebuah gerakan saat ini tidak lagi dapat diukur hanya dari besarnya perhatian yang diperoleh di media sosial. Popularitas digital memang mampu membangun kesadaran publik, namun belum tentu menghasilkan perubahan yang nyata tanpa dukungan organisasi yang kuat, strategi yang matang, dan tujuan kebijakan yang jelas.

“Viralitas bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana gagasan yang diperjuangkan mampu memengaruhi kebijakan melalui argumentasi yang kuat, legitimasi ilmiah, dan konsolidasi organisasi yang baik,” katanya.

Menurut Fathan, Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi kader memiliki modal historis dan intelektual yang besar untuk tetap menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, ia menilai kader HMI perlu memperkuat tradisi riset agar setiap gagasan yang lahir memiliki landasan akademik yang kuat.

“Kader HMI perlu memperkuat tradisi riset agar setiap gagasan yang disampaikan memiliki dasar akademik yang kokoh,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa budaya ilmiah harus menjadi karakter utama kader HMI. Kejujuran terhadap data, kemampuan melakukan analisis kebijakan, serta keberanian menyampaikan fakta secara objektif merupakan bagian penting dari etika intelektual.

“Kader HMI harus jujur terhadap data. Jangan memanipulasi statistik atau memilih fakta yang hanya menguntungkan posisi tertentu. Kejujuran ilmiah adalah fondasi moral sebuah gerakan karena dari sanalah lahir kepercayaan publik,” tegas Fathan.

Dalam paparannya, Fathan juga memperkenalkan konsep Ideopolstratak (Ideologi, Politik, Organisasi, Strategi, dan Taktik) sebagai kerangka dalam membangun gerakan mahasiswa yang efektif.

Menurutnya, ideologi berfungsi sebagai kompas nilai, organisasi sebagai infrastruktur perjuangan, sedangkan strategi dan taktik menjadi instrumen untuk mentransformasikan gagasan menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Selain itu, Fathan menyoroti pentingnya penguasaan teknologi digital untuk memperkuat gerakan intelektual mahasiswa.

“Pemanfaatan media digital harus diarahkan untuk memperluas literasi publik, menyebarluaskan hasil riset, memperkuat jejaring kolaborasi, serta membangun komunikasi yang produktif dengan para pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia mengajak kader HMI menjadikan organisasi sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan strategis yang mampu melahirkan pemimpin dengan kemampuan berpikir kritis, bekerja kolaboratif, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

“Gerakan mahasiswa akan semakin relevan apabila mampu memadukan idealisme, integritas, kapasitas akademik, dan kemampuan membangun solusi,” ujarnya.

Menutup pemaparannya, Fathan menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam memiliki tanggung jawab besar untuk terus melahirkan kader yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

“Sudah saatnya gerakan mahasiswa memperkuat tradisi riset, memperkokoh organisasi, serta menghadirkan gagasan yang solutif. Dari sanalah lahir pengaruh positif bagi pembangunan nasional dan kemajuan demokrasi Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *