Suarapemuda.id, Jakarta — Langkah tegas yang diambil Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) RI bersama Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dalam menelusuri dugaan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap atlet oleh oknum pelatih berinisial HB mendapat dukungan penuh dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat.
Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, menyampaikan bahwa perlindungan terhadap atlet merupakan prioritas utama dalam menjaga marwah dan integritas olahraga nasional. Dukungan tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa seluruh pemangku kepentingan olahraga memiliki komitmen yang sama dalam memberantas segala bentuk kekerasan.
“Saya selaku Ketua Umum KONI Pusat, memberikan dukungan untuk Kemenpora dan FPTI dalam upaya pendalaman atas dugaan pelecehan seksual oleh salah satu pelatih,” ujarnya.
Menurut Marciano, tindakan pelecehan seksual sangat bertentangan dengan nilai sportivitas, penghormatan, dan etika yang menjadi fondasi dunia olahraga. Ia menegaskan bahwa atlet, pelatih, dan ofisial merupakan Patriot Olahraga Indonesia yang wajib mendapatkan perlindungan maksimal.
“Atlet, pelatih dan ofisial adalah Patriot Olahraga Indonesia yang harus dilindungi,” tegasnya.
KONI Pusat juga mendorong pemberian sanksi tegas apabila dugaan tersebut terbukti. Langkah itu dinilai penting untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap sistem pembinaan olahraga nasional.
“Apabila terbukti terjadi, sanksi tegas harus diberikan sesuai peraturan yang berlaku agar ke depan, hal tersebut tidak terulang. Prestasi yang telah dicapai dan membanggakan harus diimbangi dengan keteladanan sebagai pelatih, bukan tindakan tidak terpuji yang membuat para atlet, pelatih lain dan masyarakat olahraga kecewa,” pungkas Marciano.
Sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas dugaan tersebut, termasuk membuka kanal pengaduan resmi bagi para atlet yang menjadi korban atau memiliki informasi terkait kasus serupa.
“Saya akan pastikan kalau ada oknum-oknum yang melakukan pelecehan seksual kepada atlet kita, saya akan dorong tim bekerja keras untuk investigasi dan hukum seumur hidup (larangan terlibat di olahraga), dan kalau perlu dibawa ke polisi,” tegas Menpora Erick.
Langkah koordinatif antara Kemenpora, FPTI, dan KONI Pusat ini diharapkan menjadi momentum perbaikan sistem perlindungan atlet serta penguatan tata kelola olahraga yang berintegritas di Indonesia.













