Suarapemuda.id, Jakarta — Peneliti senior Merah Pusaka Strategic Indonesia (MPSI), Annas Fitrah Akbar, menegaskan bahwa perubahan pola pikir generasi muda Papua menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pembangunan di wilayah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan usai dirinya melakukan riset di sejumlah daerah di Papua, termasuk Timika. Ia menilai, Papua memiliki kekayaan luar biasa, tidak hanya dari sisi sumber daya alam, tetapi juga keragaman budaya dan bahasa yang menjadi identitas kuat masyarakat setempat.
Menurut Annas, hampir setengah dari total bahasa daerah di Indonesia berasal dari Papua, yang menunjukkan potensi besar sekaligus tantangan dalam membangun kesatuan perspektif lintas kelompok.
“Ini kekayaan luar biasa selain emas dan sumber daya alam lainnya, namun juga bisa menjadi tantangan jika tidak ada pemahaman yang sama lintas kelompok,” ujarnya.
Namun, ia juga menyoroti masih adanya kendala dalam implementasi kebijakan di lapangan, terutama terkait tata kelola yang dinilai belum optimal dan belum sepenuhnya tepat sasaran.
Pemuda Harus Ambil Peran Strategis
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Annas menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sekaligus kontrol sosial.
Ia mendorong generasi muda untuk aktif mengawal kebijakan publik dengan pendekatan yang konstruktif dan edukatif.
“Pemuda harus berani mengontrol kebijakan, tapi dengan pendekatan edukatif, bukan kekerasan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya perubahan perilaku sosial yang dinilai menghambat kemajuan, seperti konsumsi alkohol berlebihan dan kecenderungan konflik, melalui pendekatan pendidikan dan pembinaan karakter.
Pendidikan Asrama Jadi Solusi
Sebagai bagian dari solusi, Annas mengusulkan penerapan model pendidikan berbasis asrama, khususnya di wilayah dengan potensi konflik sosial.
Menurutnya, sistem ini mampu membentuk kedisiplinan, memperkuat karakter, serta memutus rantai kebiasaan sosial yang kurang produktif.
“Sekolah asrama bisa menjadi solusi konkret untuk membangun karakter generasi muda Papua,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan literasi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan dasar, ekonomi, hingga budaya, sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi Jadi Kunci
Sementara itu, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia, Arman Wakum, menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan mahasiswa menjadi kunci dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia Papua.
Ia mendukung konsep pendidikan terintegrasi berbasis asrama, namun mengingatkan pentingnya pengelolaan yang inklusif mengingat tingginya keragaman budaya di Papua.
“Asrama penting karena Papua sangat beragam. Jika dikelola dengan baik, ini bisa melahirkan generasi yang disiplin dan mampu memberi dampak nyata bagi daerahnya,” ujarnya.
Dengan sinergi lintas sektor dan penguatan peran pemuda, pembangunan Papua diharapkan dapat berjalan lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.













