Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
banner 728x250
Uncategorized

Momentum Hari Lahir Pancasila, Akademisi IAIN Kendari Ajak Anak Muda Lawan Disinformasi

12
×

Momentum Hari Lahir Pancasila, Akademisi IAIN Kendari Ajak Anak Muda Lawan Disinformasi

Sebarkan artikel ini
Akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar
Akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar

Suarapemuda.id, – Akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar, mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam propaganda negatif, disinformasi, maupun narasi pesimisme yang berkembang di ruang digital. Menurutnya, momentum Hari Lahir Pancasila harus menjadi pengingat penting untuk memperkuat literasi informasi, membangun optimisme, serta meneguhkan budaya demokrasi yang beretika dan bertanggung jawab.

La Ode menilai tantangan besar bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, tetapi juga melemahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi secara kritis di tengah derasnya arus konten digital.

“Di era digital, informasi dapat diproduksi dan disebarkan dengan sangat cepat. Namun kecepatan tidak selalu identik dengan kebenaran. Banyak narasi dibangun bukan untuk mencari fakta, melainkan menggiring opini, membentuk persepsi, bahkan menumbuhkan ketidakpercayaan publik terhadap institusi dan sesama warga negara,” ujar La Ode dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, fenomena tersebut terlihat dari sebagian konten yang mengatasnamakan kritik sosial maupun dokumenter, tetapi dinilai belum sepenuhnya memberikan ruang verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan informasi secara memadai.

Ia menyinggung polemik film dokumenter Pesta Babi yang belakangan menjadi sorotan publik karena muncul keberatan dari sejumlah pihak yang merasa keterangannya tidak disajikan secara utuh, bahkan mengaku dicantumkan tanpa proses klarifikasi yang memadai.

“Demokrasi memang memberi ruang luas bagi kebebasan berekspresi. Namun kebebasan tidak boleh mengabaikan tanggung jawab. Kritik yang baik harus dibangun di atas fakta yang diverifikasi, memberi ruang penjelasan kepada semua pihak, serta menjunjung prinsip cek dan ricek. Jika sebuah narasi hanya dibangun dari satu sudut pandang tanpa keberimbangan, maka objektivitasnya patut dipertanyakan,” katanya.

La Ode menegaskan bahwa dalam tradisi akademik maupun jurnalistik, verifikasi merupakan prinsip mendasar yang tidak dapat ditawar. Tanpa proses verifikasi yang kuat, informasi berpotensi berubah menjadi disinformasi yang dapat menyesatkan masyarakat.

“Persoalannya bukan soal setuju atau tidak terhadap kritik. Yang terpenting adalah apakah kritik itu dibangun melalui proses yang jujur, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun intelektual. Demokrasi membutuhkan kebenaran yang diuji, bukan persepsi yang direkayasa,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai sebagian narasi di ruang digital saat ini cenderung membangun pesimisme kolektif dengan menggambarkan seolah seluruh kebijakan negara selalu gagal dan pembangunan tidak pernah memberikan manfaat nyata.

Padahal, menurutnya, cara pandang tersebut bertentangan dengan semangat Pancasila yang mengedepankan gotong royong, musyawarah, serta semangat memperbaiki persoalan bersama.

“Jika setiap persoalan hanya dijadikan alasan untuk menyalahkan tanpa menghadirkan solusi, maka yang lahir bukan kesadaran kritis, melainkan keputusasaan sosial. Bangsa yang terus dicekoki narasi bahwa semuanya buruk dapat kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Ini berbahaya bagi masa depan generasi muda,” ujarnya.

La Ode menambahkan bahwa demokrasi Pancasila tidak dibangun di atas kebencian, fitnah, maupun upaya mempermalukan pihak lain. Demokrasi Pancasila, kata dia, menempatkan etika, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tanggung jawab sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebebasan berpendapat.

“Kita menghormati hak setiap orang untuk menyampaikan kritik. Namun kritik yang beradab berbeda dengan propaganda. Kritik bertujuan memperbaiki keadaan, sementara propaganda sering kali membangun kemarahan, prasangka, atau kebencian tertentu. Demokrasi Pancasila mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan etika,” jelasnya.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menjadi generasi yang kritis sekaligus optimistis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang digital.

“Generasi muda harus menjadi generasi yang kritis terhadap informasi, tetapi tetap optimis terhadap masa depan bangsanya. Jangan mudah terjebak propaganda yang memecah belah atau menumbuhkan rasa putus asa. Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan dapat dikelola, persoalan dapat diselesaikan, dan masa depan dapat dibangun bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *