Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
banner 728x250
BeritaOpini

Gerakan Mahasiswa di Tengah Era Politik Algoritma

12
×

Gerakan Mahasiswa di Tengah Era Politik Algoritma

Sebarkan artikel ini

Suarapemuda.id, Oleh: Herianto (Eks Koordinator Pusat BEM SI)

Beberapa hari terakhir, saya sering merenung sambil menatap layar gawai. Ada kegelisahan yang sulit saya abaikan ketika melihat bagaimana kita, sebagai sebuah bangsa, perlahan kehilangan ruang untuk berdialog secara sehat.

Coba perhatikan linimasa media sosial, ruang publik, hingga lorong-lorong kampus. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi jembatan untuk menemukan titik terang, kini justru lebih sering berujung pada caci maki dan keinginan untuk saling menjatuhkan.

Seolah-olah, hari ini kita dipaksa hidup di antara dua kutub yang sangat ekstrem. Di satu sisi, ada yang dengan mudah melabeli setiap kritik sebagai bentuk kebencian atau ancaman terhadap negara. Di sisi lain, ada pula yang sejak awal bersikap antipati, menganggap apa pun yang dilakukan pemerintah pasti salah dan harus dilawan.

Padahal, jika kita menengok sejarah, republik ini tidak pernah dibangun oleh dua kubu yang saling meniadakan. Indonesia lahir dari perdebatan yang tajam dan keras, namun tetap menjunjung tinggi rasa hormat antarsesama pendiri bangsa.

Dari sanalah saya menyadari bahwa kita perlu kembali belajar berpikir layaknya seorang negarawan. Kedewasaan bernegara diuji saat kita mampu membedakan secara jernih antara kritik yang lahir dari niat membangun peradaban dan kegaduhan yang sengaja diciptakan untuk memperkeruh suasana.

Kita dituntut lebih peka membaca keadaan, mampu memilah mana yang benar-benar lahir dari jeritan kepentingan rakyat, dan mana yang sekadar riak kepentingan segelintir elite di balik layar.

Dalam konteks hari ini, di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sedang berlayar di tengah situasi global yang tidak menentu. Ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga persaingan antarnegara yang semakin tajam menjadi tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan.

Dalam situasi seperti ini, bangsa kita membutuhkan persatuan yang kuat. Namun persatuan tidak boleh mematikan nalar kritis. Persatuan harus berjalan beriringan dengan ruang kritik yang sehat dan tetap hidup.

Pemerintah tentu harus selalu membuka telinga untuk mendengar suara rakyat. Namun di saat yang sama, masyarakat—khususnya mahasiswa dan generasi muda juga memiliki tanggung jawab moral yang besar.

Setiap kritik yang disampaikan seharusnya lahir dari kajian yang mendalam, ditopang data yang valid, dan didorong oleh niat tulus untuk memperbaiki keadaan. Bukan sekadar mengikuti arus tren yang sedang viral, apalagi tanpa sadar menjadi alat bagi kepentingan tertentu.

Ketika berbicara tentang mahasiswa, saya selalu teringat pada khitah bahwa mahasiswa adalah kekuatan moral bangsa. Namun kekuatan moral itu tidak akan terwujud hanya dengan teriakan atau emosi sesaat. Kekuatan itu harus berakar pada kedalaman intelektual.

Ketika ruang diskusi mulai sepi, ketika membaca dan mengkaji mulai tergeser oleh kemarahan di kolom komentar, di situlah sebuah gerakan perlahan kehilangan arah. Gerakan yang kosong dari gagasan akan sangat mudah dibajak oleh kepentingan-kepentingan gelap.

Hari ini, tantangan generasi muda bukan lagi soal sulitnya mendapatkan informasi, melainkan bagaimana menyaring informasi dengan bijak. Kita hidup di era ketika opini pribadi sering dikemas seolah sebagai kebenaran mutlak, potongan video beberapa detik dianggap mewakili realitas utuh, dan viralitas kerap dijadikan ukuran kebenaran.

Karena itu, kita perlu membiasakan diri untuk lebih tenang dalam menyikapi setiap persoalan. Sebelum marah, pahami konteksnya. Sebelum menghakimi, kaji duduk perkaranya. Sebelum fanatik pada satu kubu, lihat persoalan secara utuh.

Dari semua perenungan ini, ada satu pertanyaan penting: apakah gerakan mahasiswa dan anak muda hari ini masih dibangun di atas fondasi intelektual yang kuat, atau justru mulai terjebak dalam politik viral dan pertarungan narasi di media sosial?

Menurut saya, keduanya sedang terjadi secara bersamaan.

Kita tidak bisa menampik bahwa sebagian gerakan mulai terseret arus politik algoritma. Banyak isu besar dan kompleks direduksi menjadi sekadar konten demi mengejar engagement. Tidak sedikit yang merasa perjuangan selesai hanya dengan membuat tagar menjadi trending, padahal perubahan nyata di akar rumput belum benar-benar terjadi.

Namun saya menolak untuk pesimis.

Saya masih melihat fondasi intelektual itu tetap menyala, meski kini bertransformasi dalam bentuk yang berbeda. Banyak anak muda yang bergerak melalui riset data, membangun platform transparansi publik, hingga menyusun analisis kebijakan yang tajam namun tetap mudah dipahami masyarakat.

Mereka membuktikan bahwa media sosial dan algoritma hanyalah alat. Selama alat itu dikendalikan oleh fondasi intelektual yang kuat, ia justru bisa menjadi kendaraan untuk mempercepat perubahan yang lebih besar dan berdampak.

Pada akhirnya, semuanya kembali pada komitmen kita bersama. Indonesia terlalu berharga untuk dijadikan arena pertarungan kepentingan sempit.

Kita boleh berbeda pandangan politik. Kita boleh berbeda pilihan. Bahkan kita boleh berbeda cara dalam berjuang. Namun komitmen untuk menjaga Indonesia tetap utuh, damai, dan maju harus menjadi tujuan bersama.

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak kebencian. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan.

Mari buktikan bahwa kita adalah generasi yang berani mengkritik ketika negara salah, sekaligus memiliki kebesaran hati untuk mendukung ketika negara berada di jalur yang benar.

Kecintaan terhadap tanah air tidak diukur dari seberapa keras kita berteriak, melainkan dari seberapa nyata kontribusi kita dalam merekatkan retakan di tengah masyarakat.

Indonesia tidak akan hancur hanya karena perbedaan pendapat. Indonesia justru berada di ambang bahaya ketika kita berhenti berdialog dan mulai menganggap saudara sendiri sebagai musuh.

Mari jaga Indonesia. Mari rawat demokrasi. Mari biasakan diri berpikir layaknya seorang negarawan, bukan sekadar penonton yang larut dalam kegaduhan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *