Suarapemuda.id, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir mendorong penguatan sinkronisasi program kepemudaan dan olahraga antara pemerintah pusat dan daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan program pembangunan olahraga berjalan terarah, sesuai kebutuhan masyarakat, serta memberikan manfaat nyata bagi pengembangan olahraga nasional. Kamis ( 15/10/2026).
Hal tersebut disampaikan Erick Thohir dalam forum bersama kepala dinas yang membidangi pemuda dan olahraga dari berbagai daerah. Melalui forum tersebut, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berupaya menyamakan persepsi dan menyelaraskan program kerja agar kebijakan pemerintah dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
“Tidak mungkin kita membuat sebuah program yang menyeluruh secara baik tanpa pemerintah pusat dan daerah punya program yang sama tujuannya,” ujar Erick Thohir.
Menurut Erick, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama adalah pembangunan fasilitas olahraga di daerah. Ia menegaskan, setiap pembangunan harus didasarkan pada perencanaan yang matang, riset, serta kebutuhan masyarakat setempat agar fasilitas yang dibangun benar-benar dimanfaatkan.
Ia menilai pembangunan sarana olahraga tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan pengelolaan dan pemeliharaannya.
“Ini kebutuhan yang memang harus kita laksanakan karena kepentingannya masyarakat yang membutuhkan, bukan hanya kita membangun-membangun akhirnya mangkrak yang tidak digunakan,” katanya.
Erick juga menyoroti pentingnya pembagian tanggung jawab antarkementerian dan pemerintah daerah dalam pembangunan fasilitas olahraga. Menurutnya, fasilitas yang telah dibangun harus dirawat dan dimanfaatkan secara optimal sehingga anggaran negara yang bersumber dari pajak masyarakat dapat memberikan manfaat nyata.
Ia menegaskan, pembangunan fasilitas olahraga membutuhkan koordinasi lintas sektor. Rekomendasi pembangunan dari Kemenpora perlu ditindaklanjuti oleh pihak terkait, sementara pemerintah daerah harus memastikan fasilitas tersebut dapat digunakan dan dipelihara secara berkelanjutan.
Pertemuan Rutin untuk Perkuat Koordinasi
Untuk memperkuat koordinasi tersebut, Erick menyampaikan bahwa forum antara Kemenpora dan dinas pemuda dan olahraga daerah akan dilaksanakan melalui pertemuan tematik setiap bulan serta konsolidasi tahunan.
Pertemuan bulanan akan membahas isu-isu tertentu, termasuk pembangunan dan pengelolaan fasilitas olahraga, sedangkan pertemuan tahunan menjadi ruang konsolidasi untuk menyelaraskan arah kebijakan pusat dan daerah.
Melalui mekanisme tersebut, Kemenpora berharap kepala dinas dapat meneruskan hasil pembahasan kepada gubernur, bupati, dan wali kota masing-masing sehingga pelaksanaan program dapat berjalan lebih terkoordinasi.
Selain itu, Erick menyampaikan rencana untuk mendorong perbaikan regulasi di bidang olahraga dan kepemudaan melalui pembahasan bersama DPR. Menurutnya, pembaruan regulasi diperlukan untuk mendukung pengembangan kepemudaan dan olahraga nasional, termasuk melalui sinergi lintas kementerian.
Fokus pada 21 Cabang Olahraga Unggulan
Dalam kesempatan yang sama, Erick menjelaskan bahwa pemerintah akan mendorong daerah untuk memberikan perhatian terhadap 21 cabang olahraga unggulan yang tercantum dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).
Fokus tersebut diarahkan untuk memperkuat pembinaan atlet dan meningkatkan prestasi Indonesia di ajang internasional, terutama Olimpiade sebagai salah satu sasaran tertinggi dalam kompetisi olahraga dunia.
“Kita harapkan nanti semua daerah mulai memfokuskan ke 21 cabor ini. Olahraga lain tetap kita dorong, tetapi kita kan tujuannya tadi, Olimpiade,” ujar Erick.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembinaan tidak hanya terbatas pada cabang olahraga unggulan. Olahraga masyarakat juga perlu dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik.
Salah satu langkah yang didorong adalah penyelenggaraan Car Free Day (CFD) di berbagai kota dan kabupaten. Kegiatan tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk berolahraga secara mandiri, mulai dari berjalan kaki, berlari, hingga mengikuti senam bersama.
Erick menekankan bahwa olahraga tidak semata-mata harus dipandang sebagai pengeluaran, tetapi juga sebagai investasi bagi pembangunan karakter bangsa, kesehatan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi.
Melalui penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, Kemenpora berharap pembangunan kepemudaan dan olahraga dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, serta memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.













