Suarapemuda.id, JAKARTA – Keputusan tidak memasukkan cabang olahraga dayung dalam daftar pertandingan SEA Games 2027 di Malaysia menjadi perhatian Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI). Pencoretan tersebut dinilai bukan hanya mengurangi peluang Indonesia meraih medali, tetapi juga berpotensi mengganggu kesinambungan pembinaan atlet nasional.
Dalam rapat Southeast Asian Games Federation (SEAGF) pada 30 Oktober 2026 di Bangkok, disepakati sebanyak 43 cabang olahraga dengan total 473 nomor pertandingan untuk SEA Games 2027. Namun, dayung tidak tercantum dalam daftar cabang olahraga yang dipertandingkan.
Bagi Indonesia, keputusan ini menjadi pukulan tersendiri. Selama beberapa penyelenggaraan SEA Games, dayung konsisten menjadi salah satu cabang olahraga penyumbang medali bagi kontingen Merah Putih.
Catatan prestasi Indonesia menunjukkan kontribusi besar cabang dayung. Pada SEA Games 2015, Indonesia meraih 13 emas, tiga perak, dan tiga perunggu. Kemudian pada 2019 memperoleh 10 emas, empat perak, dan tiga perunggu. Prestasi berlanjut pada 2021 dengan raihan 14 emas, 14 perak, dan tiga perunggu.
Sementara itu, pada SEA Games 2023 Indonesia mengumpulkan tiga emas, satu perak, dan empat perunggu. Pada SEA Games 2025, dayung kembali menyumbangkan sembilan emas, sembilan perak, dan tujuh perunggu.
PB PODSI menilai absennya dayung pada SEA Games 2027 dapat berdampak terhadap atlet yang telah menjalani persiapan jangka panjang sejak 2025. Mereka diproyeksikan mengikuti siklus pembinaan menuju SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
Tidak adanya kompetisi di tingkat regional tersebut dikhawatirkan memengaruhi motivasi atlet, kesinambungan program latihan, serta proses regenerasi. Padahal, dayung dan kano merupakan cabang olahraga yang juga dipertandingkan di Olimpiade.
PB PODSI menyebut upaya memperjuangkan agar dayung tetap dipertandingkan telah dilakukan sejak 31 Mei 2024 melalui komunikasi di lingkungan SEAGF. Organisasi dayung internasional dan Asia juga disebut telah menyampaikan dukungan serta melakukan komunikasi dengan pihak olahraga Malaysia.
Atas kondisi tersebut, PB PODSI meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menyampaikan keberatan secara resmi kepada SEAGF dan Olympic Council of Malaysia (OCM).
Di sisi lain, PB PODSI menegaskan pembinaan atlet nasional tetap harus berjalan, terutama untuk mempersiapkan atlet menghadapi kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028.
PB PODSI berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia memberikan dukungan terhadap perjuangan mempertahankan cabang olahraga dayung dalam kompetisi olahraga Asia Tenggara.
“Dayung adalah kebanggaan Merah Putih. Hilangnya dayung di SEA Games 2027 bukan hanya kehilangan medali, tapi kehilangan marwah prestasi,” demikian pernyataan PB PODSI.













